Pengembangan Sawit Tidak Berimbang
25 Mar 2009.
MAKASSAR - Komoditas kelapa sawit yang menjadi salah satu primadona sektor pertanian belum berimbang pengembangannya. Perluasan lahan masih terfokus di kawasan barat Indonesia.Padahal, menurut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Anizar Simanjuntak, potensi lahan di wilayah timur Indonesia sangat luas. Sebagai perbandingan, luas areal perkebunan sawit di bagian timur hanya sekira 570 ribu hektare.
Di sisi lain, luas lahan perkebunan sawit di bagian barat telah mencapai 2,3 juta hektare. "Perkembangan perkebunan sawit di kawasan barat lebih pesat dibandingkan di wilayah timur Indonesia," katanya pada seminar nasional Apkasindo di Hotel Sahid Makassar, Selasa, 24 Maret.
Kelangkaan serta mahalnya harga pupuk untuk pertanian kelapa sawit menjadi salah satu permasalahan bagi petani. Belum lagi masalah sulitnya petani mengakses dana kredit dari perbankan untuk pengembangan modal usaha.
Koordinasi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) maupun Dewan Pengurus Daerah (DPD) Apkasindo dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menindaklanjuti permasalahan sertifikasi perkebunan rakyat. Jika masalah ini dapat terselesaikan, maka petani bisa lebih mudah memeroleh kredit perbankan dengan menjadikan sertifikat tanah sebagai agunan.
Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, mengemukakan, animo petani untuk mengembangkan tanaman kelapa sawit sebenarnya cukup tinggi. Ini bisa terlihat dari banyaknya petani yang menanam kelapa sawit meskipun sumber benihnya tidak jelas.
Kendala lain yang dihadapi petani Sulsel untuk mengembangkan kelapa sawit adalah terbatasnya investor yang ingin bermitra dengan petani pemilik lahan. Petani juga kesulitan memeroleh bibit berkualitas dengan terbatasnya penangkar bibit sawit.
Luas areal perkebunan kelapa sawit di Sulsel pada 2008 hanya mencapai 15.408 hektare. Dari luas lahan perkebunan tersebut, menghasilkan produksi tandan buah segar (TBS) 112.374 ton atau sekira 22.507 ton crude palm oil (CPO).
Produksi CPO yang melibatkan 5.377 kepala keluarga itu menghasilkan nilai Rp 268.802.500.000. Pabrik CPO di Sulsel saat ini hanya ada dua unit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam.
Andi Muallim mengakui, luas areal perkebunan sawit di Sulsel masih sangat kecil dibandingkan luas areal perkebunan yang ada di wilayah Sumatera. Luas lahan yang ada bahkan lebih kecil dari perkebunan yang ada di satu kabupaten di Provinsi Riau.
Potensi lahan kosong yang dikuasai masyarakat sesuai agroklimat tanaman kelapa sawit mencapai 85 ribu hektare. Jika potensi ini termanfaatkan dengan baik, jumlah tenaga kerja yang terserap minimal 45.000 kepala keluarga.
Pemprov Sulsel berjanji memberikan kemudahan fasilitas dalam perizinan serta menyiapkan regulasi bagi investor yang berminat mengembangkan tanaman kelapa sawit. Kebijakan yang diterapkan menggunakan pola kemitraan.
Menteri Pertanian, Anton Apriantono, mengatakan, mendukung pengembangan sawit dengan pola kemitraan. Apalagi setelah melihat potensi yang ada, kawasan timur Indonesia dapat menjadi masa depan kelapa sawit di Indonesia.
"Tanaman kelapa sawit memiliki prospek yang sangat cerah. Selain sebagai bahan pangan, lebih dari 100 produk menggunakan kelapa sawit sebagai bahan dasarnya. Kelapa sawit juga bisa digunakan untuk pengembangan biodiesel," terangnya. (rif)
sumber : fajar online
MAKASSAR - Komoditas kelapa sawit yang menjadi salah satu primadona sektor pertanian belum berimbang pengembangannya. Perluasan lahan masih terfokus di kawasan barat Indonesia.Padahal, menurut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Anizar Simanjuntak, potensi lahan di wilayah timur Indonesia sangat luas. Sebagai perbandingan, luas areal perkebunan sawit di bagian timur hanya sekira 570 ribu hektare.
Di sisi lain, luas lahan perkebunan sawit di bagian barat telah mencapai 2,3 juta hektare. "Perkembangan perkebunan sawit di kawasan barat lebih pesat dibandingkan di wilayah timur Indonesia," katanya pada seminar nasional Apkasindo di Hotel Sahid Makassar, Selasa, 24 Maret.
Kelangkaan serta mahalnya harga pupuk untuk pertanian kelapa sawit menjadi salah satu permasalahan bagi petani. Belum lagi masalah sulitnya petani mengakses dana kredit dari perbankan untuk pengembangan modal usaha.
Koordinasi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) maupun Dewan Pengurus Daerah (DPD) Apkasindo dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menindaklanjuti permasalahan sertifikasi perkebunan rakyat. Jika masalah ini dapat terselesaikan, maka petani bisa lebih mudah memeroleh kredit perbankan dengan menjadikan sertifikat tanah sebagai agunan.
Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, mengemukakan, animo petani untuk mengembangkan tanaman kelapa sawit sebenarnya cukup tinggi. Ini bisa terlihat dari banyaknya petani yang menanam kelapa sawit meskipun sumber benihnya tidak jelas.
Kendala lain yang dihadapi petani Sulsel untuk mengembangkan kelapa sawit adalah terbatasnya investor yang ingin bermitra dengan petani pemilik lahan. Petani juga kesulitan memeroleh bibit berkualitas dengan terbatasnya penangkar bibit sawit.
Luas areal perkebunan kelapa sawit di Sulsel pada 2008 hanya mencapai 15.408 hektare. Dari luas lahan perkebunan tersebut, menghasilkan produksi tandan buah segar (TBS) 112.374 ton atau sekira 22.507 ton crude palm oil (CPO).
Produksi CPO yang melibatkan 5.377 kepala keluarga itu menghasilkan nilai Rp 268.802.500.000. Pabrik CPO di Sulsel saat ini hanya ada dua unit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam.
Andi Muallim mengakui, luas areal perkebunan sawit di Sulsel masih sangat kecil dibandingkan luas areal perkebunan yang ada di wilayah Sumatera. Luas lahan yang ada bahkan lebih kecil dari perkebunan yang ada di satu kabupaten di Provinsi Riau.
Potensi lahan kosong yang dikuasai masyarakat sesuai agroklimat tanaman kelapa sawit mencapai 85 ribu hektare. Jika potensi ini termanfaatkan dengan baik, jumlah tenaga kerja yang terserap minimal 45.000 kepala keluarga.
Pemprov Sulsel berjanji memberikan kemudahan fasilitas dalam perizinan serta menyiapkan regulasi bagi investor yang berminat mengembangkan tanaman kelapa sawit. Kebijakan yang diterapkan menggunakan pola kemitraan.
Menteri Pertanian, Anton Apriantono, mengatakan, mendukung pengembangan sawit dengan pola kemitraan. Apalagi setelah melihat potensi yang ada, kawasan timur Indonesia dapat menjadi masa depan kelapa sawit di Indonesia.
"Tanaman kelapa sawit memiliki prospek yang sangat cerah. Selain sebagai bahan pangan, lebih dari 100 produk menggunakan kelapa sawit sebagai bahan dasarnya. Kelapa sawit juga bisa digunakan untuk pengembangan biodiesel," terangnya. (rif)
sumber : fajar online
Comments
Post a Comment